Rabu, 22 Juni 2011

Lagu-lagu Indonesia Diputar di Rumah Makan Thailand

Lag-lagu Indonesia Diputar
di Rumah Makan Thailand


Shofwan Najmu



Siang itu, Cairo begitu panas mencekam. Angin berembus dengan campuran panasnya terik matahari yang begitu menyengat. Ribuan kaki berlalu-lalang di jalan dengan ribuan keringat pula yang menetes satu persatu dari pori-pori mereka. Tak terkecuali saya, saya pun berjalan menuju Rumah Makan Thailand di kawasan Abbasiyah.

Pesa nan telah dipesan. Sambil menunggu pesanan tiba, secara otomatis pandangan saya menyisir jalan raya. Kendaraan-kendaraan—baik roda dua maupun roda empat—berlalu-lalang saling balap, saling sabet tanpa aturan. Kondisi jalan raya kota Cairo, atau lebih tepatnya lagi Mesir, semakin menambah rasa panas di jiwa.

Karena terlalu asyik dan masygul mata ini memandangi jalan raya, sayup-sayup saya menangkap alunan nada-nada yang ritmenya tidak terlalu asing di pendengaran. Konsentrasi pikiran pun beralih dari jalan raya menuju musik yang diputar oleh tuan rumah.

Semakin diperhatikan, ternyata saya kenal. Ya, ini lagu dangdut. Saya pernah dengar lagu ini. Awalnya saya heran, orang Thailand, tapi kok lagu yang diputar lagu dangdut Indonesia? Apakah dangdut telah mendunia? Saya pun mengacuhkannya. Mungkin, mereka asal putar saja. Dan mungkin, mereka juga tidak tahu kalau itu lagu Indonesia.

Pesanan pun datang. Dengan lahap saya menyantap. Tiba-tiba, konsentrasi saya pun kembali pecah, karena kembali menangkap nada-nada yang tidak begitu asing di telinga. Ya, ternyata ini lagu pop Indonesia tahun 90-an. Senyum pun mengembang. Ada rasa bangga terselip dalam hati. Bangga karena lagu-lagu Indonesia diputar di kawasan bukan orang-orang Indonesia. Begitu pun seterusnya, lagu-lagu yang diputar adalah lagu-lagu Indonesia, salah satunya lagu versi “band kepret” (rebana) yang sangat saya kenal.

Melihat saya tersenyum, orang Mesir yang duduk di depan saya pun menegur.

“Kenapa kamu senyum-senyum?”

Dengan sedikit rasa bangga, saya pun menjawab, “Ini, yang diputar, lagu-lagu Indonesia.”

“Indonesia? Subhanaallah, andunisy, ahsanun nas (Indonesia sebaik-baiknya manusia).”

Begitulah kurang lebihnya percakapan antara saya dengan orang Mesir tersebut.

Namun, ada yang mengganjal di hati. Lagu-lagu Indonesia diputar di kawasan orang-orang non-Indonesia? Indonesia sebaik-baiknya manusia? Dua pertanyaan ini menghantui hati saya selama di Rumah Makan Thailand. Bahkan, sampai saya selesai makan pun, dan kembali ke rumah, hati dan pikiran saya masih saja berdiskusi mengenai dua pertanyaan tadi.

Patutkah saya berbangga diri sebagai warga Indonesia karena mendengar lagu-lagu Indonesia diputar dan didengar oleh bangsa lain? Sepertinya tidak! Lalu, bagaimana dengan pujian warga Mesir, yang biasa memuji manusia-manusia Indonesia sebagai sebaik-baiknya manusia? Patutkah kita berbangga diri dengan pujian tersebut?

Malu rasanya jika kita terbuai dengan pujian-pujian dari orang-orang Mesir. Kenapa? Karena pujian itu bukan untuk individual, tapi pujian secara keseluruhan. Secara tidak langsung, mereka mengira, seluruh kebaikan telah melekat di jiwa warga Indonesia, dan sebaik-baiknya manusia di muka bumi ini adalah warga Indonesia. Benarkah? Entahlah, saya sendiri hanya bisa menjawab waallahu a’alam. Toh, pada kenyataannya, Indonesia tidak sebaik yang mereka pujikan kepada kita. Akibat dari krisis moral bangsa, korupsi semakin merajalela. Budaya seks bebas semakin digandrungi oleh kebanyakan masyakarat Indonesia. Pembunuhan, dan sederet kasus kriminal lainnya tak luput menghiasi wajah Indonesia.

Mungkin betul apa yang dikatakan Hamzah Haz, bahwa bangsa kita, secara teoritis sudah bangkrut! Saya mengamini apa yang dikatakan Hamzah Haz. Indonesia memang sudah bangkrut. Tidak hanya dari sisi materi, tapi bangkrut dari sisi moralitas! Bangsa Indonesia telah kehilangan jati dirinya.

Tidak ada yang bisa kita lakukan, kecuali mengembalikan semuanya kepada Dzat yang Maha Mengatur. Seraya terus membenahi diri, merubah dan membentuk karakter diri kita dengan kebaikan-kebaikan yang telah Allah dan Rasul ajarkan di dalam Islam. Dan kebaikan individual tidak akan mampu merubah bangsa Indonesia dan mengembalikan citra baik Indonesia di mata dunia. Hanya akumulasi kebaikan setiap individulah yang dapat merubah nasib bangsa Indonesia! Kebaikan bangsa adalah akumulasi dari kebaikan-kebaikan dari setiap individu. Semoga kita bisa membentuk akumulasi kebaikan dari setiap individu kita.





Jangan lupa komentarnya, ya!! ^_^ (Bagi yang tidak memiliki akun blogger atau sejenisnya, caranya: pilih profile Anda dengan memilih Anonymous di kolom "Beri Komentar Sebagai" di bawah. Setelah itu tuliskan komentar, lalu klik Poskan Komentar, kemudian ikuti perintahnya. Beres. Jangan lupa kasih keterangan nama yaaa .... ^_^ ) 

Akal Pikiran

  Akal Pikiran*
Oleh Shofwan Najmu



*Pernah dimuat di Koran Harian Nasional Republika, kolom HIKMAH, Kamis, 28 Agustus 2008


“Katakanlah: ‘Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaanya…” (QS. Al-Ankabut [29]: 20).
Salah satu keistimewaan manusia dibanding dengan makhluk lainnya adalah diberinya akal pikiran oleh Allah SWT. Akal merupakan penggerak yang memotivasi manusia dalam mengarungi kehidupan.
Islam menyeru kita agar terus menggunakan akal pikiran: memerhatikan, merenungi, dan memikirkan fenomena-fenomena alam dan keindahan ciptaan-Nya. Islam mengajak manusia berpikir karena merupakan pendorong yang sangat kuat bagi kaum muslimin untuk menghasilkan ilmu pengetahuan yang luas. Selain itu, dengan merenungi dan memikirkan akan kekuasaan-kekuasaan Allah, keindahan ciptaan-Nya, dan fenomena-fenomena alam dengan segala keteraturan sistem alam raya, merupakan suatu jaminan yang dapat mengantarkan keimanan seseorang kepada Sang Pencipta.
Meskipun dituntut untuk berpikir, kita harus berhati-hati dalam menggunakan akal pikiran. Agar kita tidak terjebak di dalam kesalahan berpikir. Rasulullah SAW. selalu mengingatkan agar pemikiran kita selalu bersih dari aib-aib yang merusak kejernihan akal pikiran, seperti taklid dan tidak berdalil.
Taklid ialah mengikuti pemikiran atau pendapat orang lain tanpa mengetahui kebenarannya. Rasul bersabda, “Janganlah kalian menjadi orang yang taklid (ikut-ikutan)…” (HR. Tirmidzi).
Adapun yang dimaksud dengan tidak berdalil yaitu mengeluarkan suatu keputusan, argumen, dan membuat kesimpulan tanpa didasari dengan dalil yang kuat. Kebanyakan manusia cenderung membuat kesimpulan, berargumentasi, memberikan keputusan tanpa didasari dalil yang kuat, sehingga menjauhkan dari esensi kebenarannya. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra [17]: 36).
Pada hakikatnya, Allah memberi akal pikiran agar manusia selalu berpikir dan mengorganisir segala tindak-tanduknya di dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang bisa mengendalikan akal pikirannya dengan baik, maka ia telah memanifestasikan kebaikannya untuk di kehidupan akhirat kelak. Wallahu A'alam.





Jangan lupa komentarnya, ya!! ^_^ (Bagi yang tidak memiliki akun blogger atau sejenisnya, caranya: pilih profile Anda dengan memilih Anonymous di kolom "Beri Komentar Sebagai" di bawah. Setelah itu tuliskan komentar, lalu klik Poskan Komentar, kemudian ikuti perintahnya. Beres. Jangan lupa kasih keterangan nama yaaa .... ^_^ )  

Cerpen Angel in Cairo

Angel in Cairo*

Cerpen Shofwan Najmu




*Pernah Dimuat di Annida Online, Senin, 13 Juni 2011 


 Langit Kairo gelap gulita. Cahaya rembulan yang menggantung di petala langit tak mampu menerangi bumi. Redup. Sesekali cahayanya menghilang karena tertutup awan. Gemerlap bintang yang biasanya tampak bagaikan bola kristal di tengah kegelapan, kini tidak seluruhnya tampak. Hanya satu, dua atau tiga bintang yang terlihat. Dan itu pun tak mampu memberikan keindahan di malam ini. Bisa dikatakan, malam ini Kairo tidak begitu indah.
 Angin berembus pelan. Begitu menusuk hingga ke tulang. Suhu udara pada malam ini di bawah 10 derajat. Begitu dingin, sangat dingin!
Aku masih berdiri dekat jendela. Tiga lapis jaket yang mengikat di tubuhku cukup untuk menghangatkan. Aku kembali mendongakkan kepala. Langit Kairo masih tampak suram. Cahaya rembulan masih terlihat redup. Pandanganku terhenti sesaat pada bulan. Ia bergerak perlahan lalu bersembunyi di balik awan. Cahayanya yang redup, membuat dirinya terlihat begitu menyedihkan. Sama seperti diriku yang kini tampak begitu menyedihkan.
Kedua mataku masih menatap lembut keadaan bulan yang menyedihkan itu. Hiruk pikuk suara aktifitas penduduk Mesir dan bising kendaraan di depan apartemen, sama sekali tidak membuat mata ini berpaling. Tiba-tiba aku teringat kata-kata bapak satu tahun yang lalu.
 “Nduk, nanti kalau kamu pulang, hati-hati. Cek barang-barang kamu, takut nanti ada yang tertinggal. Cepat pulang, Bapak dan Ibu sudah merindukanmu. Kabari Bapak sebelum kamu berangkat, biar Bapak dan Ibu bisa menjemputmu di bandara,” ujar bapakku dengan suara sedikit parau dan lemah.
Kata-kata itu kembali terngiang di gendang telinga dan pikiranku. Kedua mataku berkaca-kaca. Tak terasa, butiran-butiran kristal mengalir dari kedua pelupuk mataku. Aliran itu semakin deras mengalir membasahi pipiku yang penuh dengan luka-luka. Aku tak kuasa menahan bendungan air mata yang pecah dari kedua mata ini. Aku pun menutup jendela dan beranjak ke tempat tidur, dibantu dengan dua tongkat yang menyanggah di kedua ketiakku.
Aku rebahkan tubuh ini di atas ranjang. Air mata masih mengalir deras membasahi pipi. Kedua mataku menatap kosong langit-langit atap apartemen. Pikiranku mengembara jauh entah kemana, sehingga akhirnya terdampar ke sebuah peristiwa satu tahun yang lalu. Sebuah peristiwa yang betul-betul menyakitkan. Tidak hanya fisik yang merasakan, tapi batin pun merasakan sakit luar biasa.
Rekaman itu memutar ulang kejadian satu tahun yang lalu ….
Siang itu, siang yang sangat membahagiakan. Empat tahun aku banting tulang, giat belajar agar kuliahku segera usai. Dan hari itu, di hari penentuan itu, Allah menjawab permohonanku. Ternyata aku lulus!
“Vi, aku luluuuusss!!” ujarku saat itu penuh kegembiraan kepada Evi, adik kelasku dan teman seapartemenku.
“Selamat, ya, Kak Aisyah!” ucap Evi memberikan ucapan selamat kepadaku.
Betapa bahagianya diriku saat itu. Di sekelilingku seakan berubah menjadi taman bunga yang cantik menawan. Debu-debu yang beterbangan kemudian berubah menjadi guguran bunga-bunga yang indah. Terik matahari yang begitu menyengat seakan paham akan kebahagiaan yang tengah aku rasakan, kemudian ia pun bergerak perlahan dan bersembunyi di balik awan. Angin sepoi berembus pelan membelai lembut tubuhku.
“Ah, musim panas tahun ini seakan bergerak lebih cepat dan berganti dengan musim semi. Indah nian hari ini,” gumamku saat itu penuh kebahagiaan.
Aku ingat, sebelum aku pergi ke kuliah untuk memastikan kelulusanku, aku harus rela dicaci maki oleh ibu-ibu Mesir yang tengah menyapu di halaman depan apartemen. Sebab, aku terlalu semangat pergi ke kuliah untuk melihat hasil ujianku, sehingga bekas air seduhan mie, aku buang begitu saja tanpa melihat ke bawah terlebih dahulu.
Satu jam lebih aku dicaci maki, diomelin habis-habisan olehnya. Untungnya, suaminya datang dan menenangkan istrinya yang begitu asyik mengomeliku. Saat itu, aku begitu khawatir, khawatir kalau ini akan menjadi pertanda buruk mengenai hasil ujianku. Dunia seperti berubah menjadi gelap. Kampus al-Azhar seketika berubah menjadi angker. Aku takut. Aku takut, itu adalah pertanda buruk mengenai hasil ujianku.
Akhirnya aku paksakan kaki ini untuk melangkah ke kampus al-Azhar. Tak lupa sebelum berangkat aku dirikan shalat sunnah Dhuha terlebih dahulu. Berharap dan memohon kepada Allah, agar Allah memberikan yang terbaik bagiku, yaitu dengan kelulusanku di tahun ini.
Tanpa diduga, pertanda yang aku khawatirkan sebelumnya, sirna seketika. Saat kedua bola mataku menatap papan pengumuman, mataku berkaca-kaca, lalu berbinar. Hatiku berdesir penuh kebahagiaan. Antara percaya dan tidak, aku pukul-pukul pipiku. Sakit. Ternyata, ini nyata!!
Aku pun tersungkur haru. Air mata kebahagiaan menetes satu persatu di pipiku yang—kata orang—merah merona. Segala kegundahan, kerisauan, kekhawatiran dan ketakutan yang selama ini aku rasakan semuanya habis berembus. Kini, yang ada hanyalah kebahagiaan.
Keesokan harinya, aku menelepon keluargaku di kampung halaman. Aku tumpahkan air madu kebahagiaan yang berada di dalam cawan jiwaku kepada bapak dan ibu. Agar mereka merasakan pula apa yang aku rasakan.
“Selamat, ya, Nduk!” kata ibuku memberikan selamat. Kata-kata itu begitu menggetarkan jiwaku.
Seperti janjiku kepada kedua orang tua, jika aku lulus kuliah, maka aku akan segera pulang ke tanah air. Aku ingin segera melepas rinduku yang sudah empat tahun lamanya terpendam.
“Insyaallah, Pak, setelah Aisyah kelar ngurus-ngurus berkas kuliah, termasuk ijazah, Aisyah pasti langsung pulang ke tanah air.”
“Berapa lama, Nduk, ngurus-ngurusnya?”
Aku tarik napas sesaat. Tak kuasa menahan haru. Haru karena aku merasakan bapak dan ibuku begitu bahagia mendengar kabar bahwa putrinya telah lulus kuliah.
“Insyaallah, sekitar dua mingguan. Aisyah juga udah mesen tiket pesawatnya,” jawabku kemudian.
“Nduk, nanti kalau kamu pulang, hati-hati. Cek barang-barang kamu, takut nanti ada yang tertinggal. Cepat pulang, Bapak dan Ibu sudah merindukanmu. Kabari Bapak sebelum kamu berangkat, biar Bapak dan Ibu bisa menjemputmu di bandara,” ujar bapakku dengan suara sedikit parau dan lemah.
Begitu pesan bapakku sebelum telepon terputus.
Dua minggu telah kulalui. Segala urusan telah selesai. Jadwal pulang pun sudah aku ketahui. Dua hari lagi aku pulang.
Sekarang hanya mempersiapkan oleh-oleh untuk kedua orang tua dan keluarga. Serta pamitan kepada teman-teman kuliahku.
Dan hari naas itu pun tiba.
Saat itu, pikiranku bercabang. Banyak hal yang harus aku lakukan sebelum aku meninggalkan Negeri Seribu Menara ini. Siang itu, terik matahari begitu menyengat. Pikiranku entah pergi kemana. Pandanganku kosong. Aku letih, karena dari kemarin aku sibuk mempersiapkan kepulanganku. Aku berjalan tertatih di depan kampus al-Azhar. Sesekali aku elap keringat yang menetes di kulitku. Aku pun menyebrang jalan dengan langkah gontai. Dan ….
“Braaakkk!!!”
Badanku seakan diterjang ombak di lautan. Aku terhempas. Terlempar jauh hingga beberapa meter. Pandanganku buram. Pikiranku kosong. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi pada diriku. Tak lama kemudian, aku didera rasa sakit yang luar biasa. Tubuhku seakan remuk redam. Aku sama sekali tidak bisa bergerak. Pandanganku masih buram. Aku hanya melihat samar-samar beberapa orang yang berdiri di dekatku. Mereka hanya menatapku, dan tidak berusaha menolongku.
Aku mengerang kesakitan, “To … Tolooong!” ucapku parau dan lemah.
Darah segar mengalir deras di wajah dan tubuhku. Aku coba untuk mengelapnya, namun tak bisa. Sulit sekali aku menggerakkan tanganku.
Aku kembali meminta pertolongan, “Sa … Sa’idniii!!”
Lagi-lagi tak ada yang menolongku. Mereka hanya berdiri melihat tanpa melakukan apa-apa.
Ah, aku begitu muak dan jijik dengan sikap mereka yang cuek seperti itu. Entah terbuat dari apa hati mereka. Seseorang yang sudah terkulai lemah, bukannya ditolong, tapi ini malah dibiarkan begitu saja. Mereka lebih menurut dengan aturan pemerintah, jika terjadi kecelakaan, jangan diapa-apakan terlebih dahulu sebelum polisi datang. Karena mereka takut dituduh yang tidak-tidak.
Omong kosong!! Memangnya polisi malaikat, yang bisa datang secepat kilat? Ini urusan keselamatan seseorang, jika telat saja sedikit, bisa-bisa tidak terselamatkan. Meskipun, segala sesuatunya Allah yang menentukan. Manusia tidak bisa menjamin apa-apa. Tapi ini lain hal, ini urusan kemanusiaan. Bukankah Allah menyuruh kita agar berusaha? Bukankah Allah juga menyuruh kita untuk saling tolong-menolong? Tapi kenapa tidak mereka lakukan?
Aku memang salut dengan orang-orang Mesir. Jika adzan berkumandang, mereka segera meninggalkan aktifitasnya lalu mendirikan shalat. Aku juga salut dengan mereka yang betul-betul mencintai ilmu-ilmu agama. Aku juga salut kepada mereka yang selalu mendermakan sebagian hartanya untuk orang-orang yang tidak mampu. Dan hal-hal yang lainnya.
Tapi untuk hal ini, aku betul-betul muak!
Tiba-tiba, aku mendengar suara lelaki tengah adu mulut dengan orang Mesir. Tampaknya laki-laki itu orang Indonesia juga. Tidak begitu jelas apa yang mereka perdebatkan. Aku hanya mendengar samar-samar, intinya laki-laki itu protes kenapa diriku tidak segera dibawa ke rumah sakit.
Aku arahkan pandanganku ke laki-laki tersebut, meski pandanganku masih buram. Dan, “To … Tolooong!” kata-kata itu meluncur begitu saja, karena aku sudah tidak kuat.
Ia menghampiriku. Lalu ia memandangiku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sinar di matanya memancarkan rasa iba begitu mendalam kepada diriku. Ia pun berkata, “Dik, Ana minta ijin untuk menggendong Adik ke rumah sakit?”
Belum sempat aku memberikan jawaban, “Ya, silakan …,” tiba-tiba dunia berubah menjadi hitam. Pandangku yang semula buram, lama-lama mengecil, lalu gelap. Aku pun tak sadarkan diri.
***
Aku masih menatap lekat langit-langit atap apartemen. Rekaman kejadian satu tahun yang lalu masih berputar di pikiranku. Kini satu tahun telah berlalu masa perawatanku. Kaki kiriku yang patah, kini sudah mulai berangsur pulih. Luka-luka di wajahku dan di sekujur tubuhku sudah berangsur menghilang. Hanya beberapa luka yang masih terlihat, seperti di wajahku ini.
Adi, malaikat yang dikirim Allah untuk menolongku saat itu, menceritakan peristiwa yang terjadi ketika aku mulai tak sadarkan diri. Ia membopongku ke rumah sakit terdekat, tapi sayang, ditolak. Alasannya karena tidak ada ruang inap untuk dirawat.
Adi kembali membopongku, kemudian membawaku ke rumah sakit yang lain dengan taksi. Tapi lagi-lagi ditolak, karena terhalang biaya administrasi. Dan ini hal kedua yang membuatku muak dengan Mesir. Pelayanan rumah sakit yang kurang memuaskan. Bahkan sama sekali tidak memuaskan. Beberapa kali Adi membawaku ke rumah sakit, selalu ditolak. Berbagai macam alasan diutarakan, meski menurutku tidak masuk akal.
Akhirnya, Adi meminta tolong kepada Presiden PPMI, presidennya mahasiswa Indonesia di Mesir. Dan alhamdulillah, setelah beberapa kali penolakan, ada juga rumah sakit yang mau merawatku. Tapi, sekalinya ada yang mau menerima pasien, biayanya mahal sekali. Di luar batas kemampuanku.
Oh, Allah … Mendengar cerita Adi, hatiku serasa disayat-sayat. Begitu susahnya mencari pengobatan di Mesir ini. Sekali lagi aku katakan, entah, terbuat dari apa hati mereka?
Ketika aku telah sadarkan diri, setelah bermusyawarah, akhirnya aku memutuskan untuk berobat kepada dokter yang terkenal di kalangan mahasiswa Indonesia, melalui pengobatan akupuntur.
Dan alhamdulillah, satu tahun masa perawatanku telah berlalu, kini sudah mulai terlihat hasilnya. Keadaanku sedikit demi sedikit mulai membaik.
Adi, malaikatku itu, selalu setia menemaniku ketika aku dirawat. Satu tahun aku lalui bersamanya. Benih-benih cinta pun mulai tumbuh di cawan hati kami berdua. Bunga-bunga yang dulu sempat layu karena kecelakaan, kini kembali mekar. Adi begitu setia menyirami bunga-bunga itu. Ia memberikan pupuk-pupuk cinta yang sangat luar biasa.
Adi selalu menasihatiku, agar aku selalu bersabar serta ikhlas menerima cobaan yang telah Allah berikan. Karena keindahan itu ada hanya untuk orang-orang yang bersabar. Dan Allah menjawab itu semua. Tiga bulan yang lalu, Adi melamarku. Ia ingin menjadi yang halal bagiku. Kedua orang tua kami telah sepakat. Dan satu bulan lagi, aku dan Adi akan pulang ke tanah air untuk melangsungkan pernikahan, insyaallah.
Kedua mataku berbinar. Hatiku berdesir penuh kebahagiaan. Tiba-tiba degup jantungku berdetak kencang. Degup jantung seorang gadis yang tengah kasmaran. Kata-kata lamaran Adi pun kembali terngiang. ***


Kairo, 14 Mei 2011




Jangan lupa komentarnya, ya!! ^_^ (Bagi yang tidak memiliki akun blogger atau sejenisnya, caranya: pilih profile Anda dengan memilih Anonymous di kolom "Beri Komentar Sebagai" di bawah. Setelah itu tuliskan komentar, lalu klik Poskan Komentar, kemudian ikuti perintahnya. Beres. Jangan lupa kasih keterangan nama yaaa .... ^_^ ) 

Selasa, 31 Mei 2011

Anarkisme: Problema Utama Anak Bangsa

Anarkisme:
Problema Utama Anak Bangsa
Oleh Shofwan Najmu


“Ada satu yang hilang dari negeriku. Tak seperti dahulu saling bersatu. Ada yang telah berubah dari bangsaku. Hilangnya kasih sayang itu menyakitkanku.”

Begitulah opening lirik lagu berjudul Rindu Bersatu, yang dinyanyikan oleh beberapa musisi papan atas Indonesia. Lagu tersebut merupakan gambaran negeri tercinta Indonesia yang semula ‘hijau penuh keindahan’, tapi kini hanya dihiasi dengan ‘polusi-polusi’ yang merusak tatanan kehidupan. Berlebihan memang, tetapi itulah yang terjadi di dalam kenyataan.
Anarkisme. Sikap inilah yang menjadi problema utama anak bangsa, yang kini lebih mendominasi dan disukai penduduk Indonesia, bukan terhadap musuh negara, tetapi kepada sesama saudara, yang pada akhirnya berujung pada perpecahan.
Budaya anarkis yang kerap kali terjadi, memiliki dampak yang sangat luar biasa, yaitu merusak tatanan kehidupan bersama. Entah sejak kapan masyarakat Indonesia sangat sulit menggunakan otaknya dengan baik, mereka lebih memilih otot dalam menyampaikan aspirasi mereka, meski itu tidak semua. Aksi kekerasan seakan telah menjadi cara yang ideal dalam menyelesaikan suatu permasalahan, tanpa memikirkan akibat-akibat yang akan ditimbulkannya. Motifnya pun amat beragam. Ada apa sebenarnya dengan Indonesia? Kenapa masyarakatnya menjadi lebih beringas dan menyukai kekerasan?
Definisi anarkisme sendiri, di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ialah suatu ajaran atau paham yang menentang setiap kekuasaan negara, atau teori politik yang tidak menyukai adanya pemerintahan dan undang-undang. Ini merupakan bentuk pemahaman bahwa setiap negara, pemerintahan dengan segala kekuasaan dan undang-undangnya adalah lembaga yang membatasi ruang gerak dan melakukan penindasan terhadap kehidupan, tidak adanya kebebasan di dalamnya. Oleh karena itu, negara dan pemerintahan serta seluruh perangkat pendukungnya harus ditiadakan. Tidak adanya aturan, kebebasan individu dan kebersamaan sosial merupakan tujuan utama mereka.
Peter Kropotkin mengatakan, “Anarkisme adalah sebuah sistem sosialis tanpa pemerintahan. Ia dimulai diantara manusia, dan akan terus mempertahankan vitalitas dan kreativitasnya selama merupakan pergerakan dari manusia.”
Namun, pada kenyataannya, orang-orang yang anarkistis (bersifat anarki) kerap kali menggunakan kekerasan di dalam pergerakan mereka. Cara yang demikian, (propaganda by the deed), mereka akui sebagai metode yang ampuh dan cepat dalam menyampaikan dan memperjuangkan ide-ide mereka. Mereka bergerak dengan aksi langsung (perbuatan yang nyata) dengan melegalkan segala cara, yaitu aksi kekerasan, penindasan, pengrusakan dan penyerangan. Beringas menjadi salah satu ciri mereka. Mereka akan terus berontak jika ada yang masih bersilang pendapat.
Di Indonesia, anarkisme sendiri telah meluas dan merasuki seluruh elemen masyarakat. Sikap anarkis tidak hanya mengkerucut terhadap problema politik, yang tidak sepakat terhadap kebijakan pemerintah semata. Akan tetapi, anarkisme telah meluas dan seakan telah menjadi budaya bangsa. Dengan garangnya api kebencian (sikap anarkis) merasuki seluruh elemen masyarakat seperti mafia yang hendak menunjukkan kekuatan dan keperkasaannya.
Aksi anarkis kerap kali terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Para pelaku dan motifnya pun berbeda-beda. Dan tak jarang, aksi anarkis sering kali digunakan hanya untuk masalah-masalah yang sepele. Misalnya, debat kusir di catatan Facebook yang terkadang berujung pada tindakan anarkis.
Pada akhirnya, hukum/aturan, norma, adat dan kesusilaan yang seharusnya menjadi tradisi bangsa pun tidak berlaku sama sekali. Yang berlaku hanyalah hukum anarkisme, kriminalisme, premanisme dan rimbaisme. Suatu hukum yang lebih mengedepankan otot semata daripada otak. Sehingga tidak aneh, jika aksi-aksi anarkis sering kali terlihat dan menghiasi wajah bangsa.
Kita lihat saja, seorang anak kecil berani membunuh orangtuanya, begitu juga sebaliknya. Dalam skala yang besar, seorang pelajar tawuran dengan pelajar yang lain, saling tikam dan bahkan berujung pada kematian.
Para supporter bola, yang tidak pernah lepas dengan aksi anarkis ketika mereka tidak menerima kekelahan tim kesayangannya. Tak hanya itu, para pemain bola Indonesia pun demikian. Pemain bola yang kurang memiliki kesabaran, maka tak aneh jika melihat para pemain bola Indonesia saling ribut dengan pemain lawannya atau dengan wasit. 
Para intelektual muda bangsa pun demikian. Aksi demonstrasi mahasiswa sering kali berujung pada tindakan yang anarkis, seperti bentrokan dengan aparat, pengrusakan fasilitas umum atau aset negara, pembakaran mobil pemerintah dan aparat negara, dan aksi-aksi anarkis lainnya.
Tak hanya itu, ‘polisi-polisi religi’ dengan propaganda by the deed-nya mereka memberantas kemungkaran. Dan tak jarang aksi mereka berujung pada aksi anarkis yang menimbulkan banyak korban. Aksi kekerasan ini yang dikenal sebagai kekerasan teologis, yaitu menggunakan dalih dan dalil agama untuk melegitimasi kepada penggunaan kekerasan dalam jihad melawan kelompok-kelompok lain. Padahal Allah telah berfirman di dalam surat an-Nahl ayat 125, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” Meski demikian, banyak pula pernyatan-pernyataan yang sifatnya membela diri, bahwa agama secara esensial mengajarkan perdamaian dan menentang kekerasan. Akan tetapi, manusianya saja yang kemudian menyalahgunakan agama untuk kepentingan pribadi/kelompok sehingga menyulut aksi kekerasan. 
Dan masih banyak lagi tindakan-tindakan anarkisme yang sering kali menghiasi wajah Indonesia. Sehingga yang terjadi adalah wujud nyata mereka yaitu seorang pelajar, mahasiswa bahkan kalangan agamawan namun substansinya adalah preman.
Banyak faktor yang melatarbelakangi itu semua, diantaranya:
Pertama, faktor internal. Sulitnya melakukan adaptasi dengan situasi lingkungan yang kompleks, sehingga sangat sulit untuk mengontrol dirinya dengan baik.
Kedua, faktor keluarga. Tidak adanya hubungan yang harmonis di dalam keluarga, bisa memicu seorang anak untuk melakukan tindakan yang anarkis. Ini berkaitan dengan faktor yang pertama, karena seorang anak sulit beradaptasi dengan situasi lingkungan yang kompleks.
Ketiga, faktor lingkungan. Lingkungan yang buruk, dapat membawa dampak yang buruk bagi kejiwaan seseorang.
Keempat, keinginan untuk dihargai dan dilihat eksistensinya. Seseorang yang dipandang sebelah mata, tidak diakui eksistensinya, maka akan mengalami gejolak jiwa yang berupa agresi untuk menunjukkan keberadaan mereka dalam suatu lingkungan. Dan kebanyakan, orang-orang yang seperti ini, lebih memilih anarkisme sebagai wujud pergolakan jiwa mereka.
Kelima, ketidakadilan. Tidak adanya keadilan dari pemerintah, kebijakan yang malah sering menyengsarakan rakyat, menjadi pemicu utama para mahasiswa geram dan ‘gemes’ terhadap pemerintah. Sehingga tidak ada jalan lain kecuali melakukan aksi demonstrasi yang sering berujung pada tindakan anarkisme.
Keenam, kurangnya pemahaman dan lemahnya pendidikan.
Masih banyak lagi faktor-faktor yang menyebabkan seseorang bertindak anarkis. Dan faktor utama yang melatarbelakangi itu semua adalah lemahnya iman dan tidak adanya kesabaran di dalam diri seseorang. Tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali kembali merefleksi diri, merenungi dan memulai perubahan dari diri sendiri. Berpikir lebih jernih, logis dan ke depan, menjadikan kesabaran sebagai alat dalam memecahkan suatu permasalahan. Karena walau bagaimanapun, tindakan yang anarkis tidak akan mungkin menyelesaikan suatu permasalahan. Waallahu a’alam.  





   Jangan lupa komentarnya, ya!! ^_^ (Bagi yang tidak memiliki akun blogger atau sejenisnya, caranya: pilih profile Anda dengan memilih Anonymous di kolom "Beri Komentar Sebagai" di bawah. Setelah itu tuliskan komentar, lalu klik Poskan Komentar, kemudian ikuti perintahnya. Beres. Jangan lupa kasih keterangan nama yaaa .... ^_^ ) 

Memaknai Kehidupan

Memaknai Kehidupan*

Oleh Shofwan Najmu


*Pernah Dimuat di Koran Harian Nasional Republika, Sabtu, 09 Agustus 2008, di Kolom HIKMAH 


Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang diberi umur panjang dan baik amalnya. Sebaliknya, sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi umur panjang namun jelek amalanya.” (HR Ahmad). Demikian pesan yang disampaikan Rasul untuk menjalani kehidupan yang fana ini.
Hidup merupakan ruang gerak bagi manusia. Jika manusia tidak bergerak, maka akan tampak seperti mayat. Begitu juga dengan kehidupan, jika tidak ada kehidupan, alam ini hanya dihiasi dengan kesunyian. Namun permasalahannya, bagaimana manusia menjalani hidup ini dengan baik, menjalani kehidupan yang penuh dengan onak dan cabaran, menghadapi gegap gempitanya kehidupan, sehingga berbuah manfaat di dunia dan akhirat.
Menurut Islam, hidup bagi manusia bukan suatu yang sia-sia. Hidup adalah titipan Ilahi untuk memberi kesempatan, lalu dapat di ketahui siapa di antara manusia yang paling baik amalnya. Lantas, apa tujuan hidup kita yang sebenarnya?
Tujuan kita hidup di dunia adalah hidup untuk hidup. Maksudnya, hidup kita di dunia merupakan perbendaharaan untuk kehidupan kita di akhirat kelak. Jika kita hidup di dunia dengan menaruh benih kebaikan, maka di kehidupan selanjutnya (di akhirat) kita akan menuai kebaikan pula. Begitu pun sebaliknya, jika kita hidup di dunia dengan menaruh benih keburukan, maka hanya keburukan pula yang akan kita dapatkan di kehidupan selanjutnya. Manusia diberi kehidupan di dunia untuk dipertanggung-jawabkan setelah kematian.
Suatu ketika, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik mengajukan dua pertanyaan kepada Abu Hazm, “Mengapa kita begitu betah hidup di dunia yang penuh dengan cobaan dan ujian, padahal nafas dan perubahan fisik manusia dari masa ke masa pada hakikatnya adalah langkah-langkah ajal menuju liang kubur?” Abu Hazm menjawab, “Karena kita terlalu berminat membangun istana di dunia dan lupa membangun istana di akhirat.” Pertanyaan yang ke dua, “Tebaklah nasibku di akhirat?” Abu Hazm menjawab, “Bercerminlah pada Al-quran, renungkanlah perintah-perintah yang telah Baginda lakukan dan larangan-larangan yang telah Baginda hindari, di sana nasib Baginda akan terjawab.”
Ada kata bijak dari Ibnu Taimiyah, “Bila di hatimu tak ada kelezatan yang bisa kamu dapatkan dari amal yang kamu lakukan, maka curigailah hatimu.” Semoga kita dapat menjalani hidup ini dengan hati yang ‘terkawal’. Amin. Wallahu a’lam.





Jangan lupa komentarnya, ya!! ^_^ (Bagi yang tidak memiliki akun blogger atau sejenisnya, caranya: pilih profile Anda dengan memilih Anonymous di kolom "Beri Komentar Sebagai" di bawah. Setelah itu tuliskan komentar, lalu klik Poskan Komentar, kemudian ikuti perintahnya. Beres. Jangan lupa kasih keterangan nama yaaa .... ^_^ ) 
TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG KE DUNIA KATA SHOFWAN NAJMU ^_^
Photobucket

Anda Pengunjung Ke ....

Jejak Pengunjung

Page Rank

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net